23 April 2017

Dibalik lensa fotografer

Assalamualaikum, selepas solat subuh tadi, Aku beranjak ke The Church of The God Shepperd lagi untuk melihat matahari terbit. Aku pikir suasana akan sunyi, namun rupanya sudah banyak sekali para fotografer yang mengambil posisi strategis untuk mengabadikan foto matahari terbit yang sinarnya tempat di balik gereja. Aku ikut-ikutan beraksi di antara mereka dengan hanya mengandalkan kamera handphone, percaya diri banget berjejer dengan para fotografer yang peralatan-peralatan kameranya super canggih bin ajaib.

Setelah puas mengambil foto-foto matahari terbit dari balik bukit, aku jalan-jalan di sekitar danau dan Karena masih sepi (ramai nya Cuma Di dekat gereja) Aku bisa puas melihat banyak kelinci liar berlarian di antara semak-semak Bunga-Bunga lupin yang mengering. Kelinci liar khas pegunungan yang berwarna coklat tua dan kuping panjang. Suasana sepi juga memungkinkan untuk puas mengambil panorama lake Te Kapo yang pagi ini tenaaaang banget dan airnya dingiiiin, tanganku sampai dingin banget Karena lupa ga pale sarung tangan.

Sunrise at Te Kapo

Sebelum ke Christchurch

Selepas sarapan dan packing Aku jalan-jalan lagi di Tepi danau di belakang YHA dan akhirnya bisa ambil foto punggung, wkwkwkkk, pose favourite Aku. Oh iya saat sarapan tiba-tiba di tegur dalam Bahasa Indonesia oleh seorang turis cowok yang juga student dari Brisbane. Tau ga dari mana dia menyimpulkan Aku orang Indonesia? Karena Aku sarapan nasi, itu katanya. Apakah orang Indonesia identik dengan makan nasi? Habis buatku, asal makan nasi aku bisa kenyang dan tahan lapar sampai lama. Malam ini kan nginap di bandara buat nunggu penerbangan besok pagi, jadi ya mesti makan nasi.

Pukul 12.20 keluar dari YHA dan berjalan ke area bus intercity yang lokasinya tidak terlalu jauh. Berangkat dari area parkir danau Te Kapo pukul 13.04, dan aku ambil posisi duduk di paling depan sebelah kiri, karena agendanya mau ambil video perjalanan dengan sudut pandang depan atau jalanan. Sejam puas-puas in ambil video, selanjutnya nuraninya sandaran kursi dan sukses tertidur sampai 20 menit menjelang Bandara. Adapun perjalanan ke bandara darah Te Kapo sekitar 3 jam.

Berkompromi dengan ketidaknyamanan

Menginap di Bandara Christchurch menjadi pengalaman menginap yang ketiga setelah dua kali sebelumnya pernah menginap di Tullamarine AirPort. Hal yang membedakan adalah, kalau di Tullamarine, para penumpang yang menginap di Bandara boleh duduk di area check in, karena lebih hangat. Namun di Christchurch, penumpang tidak diperbolehkan menginap di bandara jika tidak bisa menunjukkan kalau dia tiba di bandara setelah pukul 10.00 PM. Akan ada beberapa kali petugas berlalu Lalang mengecek apakah ada penumpang yang rebahan di lantai atau tiduran di kursi, mereka melarang keras. Area check in juga ditutup setelah jadwal check in terakhir, jadi tempat duduk yang di Bolehkan untuk dijadikan tempat menginap adalah area kedatangan yang lokasinya di dekat pintu keluar bandara. Semakin malam, suasana akan semakin ramai karena para penumpang baru tiba dari negara lain sekitar pukul 11 malem bahkan sampai esok paginya pukul 5 pagi. Ya meskipun tidak nyaman dengan tiduran di kursi, namun ini menjadi pengalaman yang bisa di ceritakan ke anak cucu. Buatku sendiri, tidur bisa di mana saja, dasarnya memang tukang tidur, mau Nyandar di jendela Bus, nyandar di bangku, mah nyenyak aja. Yang penting peluk erat-erat barang-barang bawaan. Maunya sih nyandar di bahu kamu….( wkwkwk malah curcol)

18121162_1930105620544487_1206019472478842657_o

langit di atas NZ selepas take off dari Christchurch Airport

Dani wulan | 


Advertisements