Fajar di Aoraki, Senja di Wakatipu

Heading to TWIZEL
Assalamu’alaikum

Hari keempat di NZ aku kembali ke Twizel sebagai tempat pemberhentian sementara sebelum menuju ke Queenstown pukul 13.30 siang dengan bus intercity. Dari Mt. Cook Lodge and Motel aku dijemput dengan bus Cook Connect. Cuaca pagi ini ceraaaah banget, puncak Aoraki Mt.Cook kelihatan jelas dan gagah di sana. Aku merasa sedih ninggalin Mt.Cook Village, semoga nanti bisa ke sini lagi bareng kekasih hati. Aamiin

Sejatinya perjalanan akan mengubah seseorang, dan di perjalanan ini aku menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Melihat puncak Aoraki Mt.Cook dan gunung-gunung di sekitarnya membuatku merasa kerdil di hadapan gunung yang merupakan ciptaan Allah SWT, apalagi di hadapan sang pencipta Allah SWT, tentunya merasa lebih dan lebih kerdil lagi. Sejatinya tidak ada guna kesombongan di muka bumi ini, karena manusia hanyalah pengembara yang mencari bekal sebanyak-banyaknya buat akhirat yang kekal. Aku jadi ingat kisah nabi Musa AS yang ingin bertemu Allah SWT dan seorang nabi pun merasa gentar saat baru berada di gunung Tursina, belum bertemu dengan Allah SWT. Menjadi pengingat bagi diri sendiri bahwa kita harus selalu rendah diri.

Perjalanan dari Mt.Cook Village ke Twizel, aku mendapatkan pemandangan Danau Pukaki (baca pukeki) yang baguuuus dan indaaaaah banget. Airnya biruuuuuuu berkilauan sinar matahari dan di ujung kejauhan berdiri dengan gagahnya Aoraki Mt.Cook. Sopir Cook Connect baik hati banget, karena kita berhenti sejenak di Look out Pukaki, dan Alhamdulillah dengan cuaca secerah ini, pemandangan yang terlihat, Subhanallah luar biasa, this is another birthday gift from Allah SWT. Aku ga puas-puas ngambil gambar dan tanpa malu malu minta tolong turis lain buat ambil foto ku, abiiisnya setelah tragedi tongsis patah kemarin di jalur Hooker Valley, aku ga punya andalan lain buat ambil selfie, hikssss. Next solo trip, harus punya go pro deh. Aamiin.

Sesampainya di Twizel, aku Cuma duduk-duduk di Twizel market square sembari menikmati pemandangan khas autumn , dan beberapa anak-anak yang bermain di depan Visitor centre. Matahari bersinar cerah hari ini, namun udaranya dingin sehingga jaket fleece dan hoodie tetap dipakai, meski pas ngelirik bule sebelah yang lagi serius baca buku, Cuma pakai celana pendek dan T shirt doang. Nasib anak tropis yang ngebolang ke pulau selatan NZ.

Heading to Queenstown

Tepat pukul 13.40 bus intercity yang akan membawaku ke Queenstown tiba, dan begitu lapor ke Pak sopir aku langsung naik dan Alhamdulillah aku dapat kursi di sebelah jendela di kanan, sehingga pemandangan yang aku dapat sangat menakjubkan. Pemberhentian pertama setelah Twizel adalah Omaroma, tidak ada yang menarik karena bus cuma berhenti selama 10 menit.

Lindis Pass, Cromwell, dan Arrowtown

Bus intercity yang aku tumpangi melewati scenic drive lindis pass, sebuah taman nasional yang menyuguhkan pemandangan pegunungan dengan jalan yang berliku-liku. Kalau kamu pernah nonton Moana, maka kamu bisa membayangkan pegunungan di sini seperti orang-orang yang tertidur. Benar-benar indah. Aku ga tahu bagaimana menulis keindahan ini, Cuma bisa dibayangkan dan dilihat sendiri.

Selepas dari lindis pass, kami memasuki cromwell, kota yang banyak domba di sepanjang jalan dan juga perkebunan anggur yang siap petik. Domba domba seperti di film Shaun the Sheep yang sedang merumput dan bahkan ada yang sedang tiduran.

Selanjutnya Arrowtown, kota yang paling dekat dengan Queenstown ini sedang dalam masa puncak musim gugur, jadi warna kota adalah kuning keemasan. Bentuk rumah-rumah yang unik dan ada yang bertingkat-tingkat di bukit membuat kota ini semakin cantik. Jadi aku putuskan ga usah ke Arrowtown lagi, cukup hari kedua nanti aku muterin kota Queenstown saja.

Menjelang senja, aku tiba di Queenstown, dan setelah check ini aku belanja bahan makanan buat makan malam dan buat bekal besok ke Milford Sound. Sekarang waktunya tiduuur.

17917243_1927625617459154_6017411493586156007_o

senja di lake wakatipu

-daniwulan, Queenstown| 19 April 2017

Advertisements