Kisah Sebuah Kursi

Assalamualaikum…


Hari ini aku ingin bercerita tentang kisah sebuah kursi. Alkisah, pada suatu masa, ada seseorang ingin membeli sebuah kursi untuk dirinya. Dia pergi ke toko perabot dan mulai melihat ke sekelilingnya, ada begitu banyak pilihan kursi. Dia melihat, kemudian mencoba untuk duduk di atas kursi-kursi tersebut. Terkadang dia merasa suatu kursi memiliki design yang menarik mata, namun saat dia mendekat dan mencoba untuk duduk, dia merasa tidak nyaman. Kemudian dia menemukan sebuah kursi dengan design yang sederhana namun nyaman untuk di duduki, namun penjual mengatakan ada sedikit cacat di bagian tertentu, sebuah goresan. Dia terus melangkah memilih kursi di seluruh ruangan toko, ada kursi yang berderit jika di duduki, ada pula yang tempat sandaran tangan-nya tidak nyaman. Akhirnya dia menemukan sebuah kursi yang nyaman untuk di duduki, untuk menyandarkan tangan, untuk beristirahat, untuk tempat memejamkan mata. Bagi dia kursi ini memiliki design yang sangat menarik, warna yang menarik, dan nyaman menjadi tempat duduk, sehingga akhirnya dia membeli kursi tersebut. Akhirnya pembeli pun menjatuhkan pilihannya meski Penjual tersebut memiliki pendapat berbeda, dia mengatakan kursi tersebut sangat biasa jika di bandingkan beberapa kursi yang telah di lihat dan di coba oleh si calon pembeli tadi.

Jika untuk sebuah kursi saja kita bebas memilih yang nyaman, kenapa untuk pasangan kita tidak boleh memilih? Kenapa kebanyakan masyarakat di negaraku sangat menghakimi dengan pilihan kata “terlalu pemilih” dalam urusan jodoh? Saat mereka melihat seorang anak perempuan dengan katakanlah usia melebihi usia ideal pernikahan (dalam pandangan umum, usia ideal menikah sekitar 25-27 tahun), mereka dengan mudahnya mengatakan “kamu pilih-pilih sih?” atau “makanya jangan terlalu pilih-pilih?” Lah untuk urusan sehari-hari saja kita sering di hadapkan pada pilihan, misalkan, saat ingin berangkat ke kantor, kita memilih pakaian apa yang cocok untuk di pakai hari itu? Manusia boleh memilih kan, namun keputusan jadi atau enggaknya ada di tangan yang Maha Kuasa, Allah SWT. Intinya kan memilih yang utama berdasarkan agamanya. Dalam proses taaruf yang sebenarnya taaruf saja kita bisa memilih dengan menyebutkan kriteria calon yang diinginkan Kepada perantara (berdasar pengalaman sahabat yang menikah dengan proses taaruf).

Suatu ketika aku membaca status teman di suatu media sosial, dia menulis bahwa dia sudah kenyang dengan pertanyaan”kapan nikah?”, sehingga jika dia dapat seribu rupiah dari satu pertanyaan dia bisa bayar kuliah S2 di Aussie plus jalan2 keliling dunia. Woww udah berapa banyak pertanyaan coba, biaya kuliah di Aussie mahal (2 tahun = 16 unit mata kuliah x AUD 5000 untuk satu unit). Itung sendiri la ya. Intinya masyarakat negeri ku terlalu ramah dan terlalu KEPO ingin tahu segala hal, dan terlalu menjudge dalam urusan perjodohan.

Suatu ketika aku sering di curhati oleh seorang teman tentang kegalauan dirinya yang juga belum menikah dan sering di bilang pemilih oleh teman-temannya. Kemudian temanku ini menghilang beberapa masa karena sibuk dengan kuliah S2 nya di salah satu universitas di Jogjakarta. Beberapa tahun kemudian aku bertemu dia di Jakarta dan kalian tahu pertanyaan apa yang dia lontarkan dipertemuan pertama? “mbak sudah nikah?” saat itu dia sudah menikah (aku tahu dari status nya di media sosial, penting kali yaaak ngubah status di medsos). Aku jawab “belum.”. Dan kalian tahu pertanyaan berikutnya? “Nunggu apalagi sih mbak, JANGAN pilih-pilih lah”. Oh my God, lah emang dulu dia ga milih suaminya apa? nemu gitu aja apa di mana gitu?. Pas aku tanya gitu dia jawab, ya milih juga. Lah terus napa ngejudge orang jangan pilih-pilih, toh dulu dia berada di Posisi yang sama. Jangan salah tanggap, aku juga ingin punya sebuah hubungan dengan seorang pria (yang beruntung dapatin aku, ciee) dan menikah suatu hari nanti, Tapi masyarakat kita terlalu kepo dengan urusan jodoh dan pernikahan (orang lain) sampai menjadi bahasan utama, bahkan, saat baru kenalan, pertanyaan “sudah nikah?” termasuk dalam jajaran top 10 pertanyaan basa-basi yang di ajukan orang saat baru pertama ketemu.

Menikah itu bukan sebuah perlombaan, kawan. Masyarakat di negaraku menganggap menikah adalah pencapaian seorang anak perempuan dalam suatu keluarga, prestasi lainnya ga penting, setidaknya itulah yang aku alami jika ketemu dengan banyak orang Kepo. Hidup ini cuma sekali, aku ingin mengisinya dengan berbagai hal positif dan melakukan hal-hal yang masih bisa aku lakukan selagi masih di beri nikmat kesehatan, nikmat rezeki, nikmat-nikmat yang lainnya dari Allah SWT. Masalah jodoh, aku berusaha kok, memperluas silaturahmi dan selalu meningkatkan kualitas diri dihadapan Allah SWT sebagai cara untuk menjemput jodoh. Yang punya kuasa untuk mempertemukan dan mempersatukan kita dengan jodoh kita masing-masing adalah Allah SWT, maka perbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT. Aku hanya ingin bersamanya yang membuatku nyaman.

Keuntungan tinggal di Melbourne adalah aku terlepas dari pertanyaan-pertanyaan ini, setidaknya teman-teman Indonesia sesama mahasiswa sudah tidak lagi terikut budaya kepo masyarakat di negaraku. Namun pernah suatu ketika di suatu tempat, aku ketemu orang Indonesia, yang tenyata basa-basinya masih tentang pertanyaan Kepo. Wkekekkekke, masih belum move on ya mbak. Pertanyaan dia aku diemin aja, pura-pura ga denger. Lain kali, kalaukalian ketemu aku dan mencoba basa-basi ajukanlah pertanyaan yang diluar masalah nikah, misal nih: gimana cuaca di Melbourne, udah jalan-jalan kemana aja saat di Aussie, udah nonton film passenger mbak?, Mbak kamu sempet mampir ke negara tetangga Aussie ga? Mbak, kuliah di aussie gimana? Atau kalau kamu masih kekeuh nanya status pernikahan, nanyanya harus gini “mbak, kamu sudah nikah belum? aku punya calon nih, aku kenalin yaak, kali aja cocok mbak”  tuuh kan, banyak banget pertanyaan yang bisa di ajukan di luar masalah jodoh yang ujung-ujungnya ngejudge tentang “pilih-pilih”.

Udaah aargh ceritanya, mari kita ngebahas itinerary buat next destination yang bisa jadi bahan untuk tulisan berikutnya.

 

 

Advertisements