Kontemplasi

Assalamualaikum…

Dear readers, apa sih kontemplasi? Kontemplasi yang aku maksud disini adalah perenungan, merenungkan apa-apa saja yang telah, sedang dan akan aku lakukan. Kenapa 31 hari? Karena hari ini adalah tanggal 1 desember 2016, yang berarti 31 hari menjelang tahun 2017, so aku mau buat perenungan selama 31 hari ini (semoga istiqomah, dan konsisten menulis dalam 31 hari)


Day 1/01122016/Thursday

Perenungan hari pertama dimulai dengan kata Syukur Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada ku hingga detik ini. Kalau diingat-ingat sepanjang tahun 2016 (January s/d November saja banyaaak banget yang aku dapat dari Allah SWT, alhamdulillah). Sesungguhnya Allah memberikan sesuatu dengan tujuan agar kita lebih dekat dan lebih bertakwa kepadaNYA (sentilan buat diri sendiri nih). Apakah aku terus konsisten mengaji setiap hari walau hanya berapa ayat? Bagaimana dengan rutinitas tahajud dan dhuha? Bagaimana dengan konsistensi sedekah? Bagaimana dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain, seperti mendoakan orang lain, dsb? Intinya merenungkan keduanya Hablumin Allah dan hablumminannas.

Belajar dari masa lalu 

Orang bijak mengatakan ambillah hikmah dari kejadian yang lalu, namun janganlah kamu terus bersedih atas kegagalan ataupun kesalahan masa lalu. Jadikan pelajaran dan berjalan lah maju, hiduplah di masa sekarang dan berharaplah untuk masa depan yang lebih baik. Mungkin benar kata bijak, bahwa seiring pertambahan usia, pemikiran kita akan semakin dewasa dan bijaksana. Sabar, tidak gegabah, lebih open minded, social enthusiasm, ikhlas, dan selalu berprasangka positif adalah hasil pelajaran dari banyak pengalaman masa lalu. Aku bersyukur bertemu dengan banyak orang di masa lalu, bersyukur pernah di sakiti, bersyukur pernah di kecewakan, bersyukur dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu mendukung, bersyukur di tinggalkan adik terkasih, bersyukur di beri teguran oleh Allah SWT, bersyukur di kelilingi oleh keluarga tercinta. Alhamdulillah atas segala nikmatmu ya Allah.

Hidup di masa kini

Menghargai setiap waktu dengan orang-orang terkasih, dengan sahabat, dengan orang-orang yang selalu memberikan nilai tambah di diri kita, dengan orang yang memberikan waktunya untuk membenarkan bacaan Al Qur’an ku, dengan orang-orang yang menceritakan kisah-kisah dalam Al Qur’an, dengan orang-orang yang memberikan asupan untuk jiwa kita berupa hikmah Al Qur’an, dan bahkan obrolan ringan dengan seorang sahabat yang memanfaatkan waktu liburan untuk sepenuhnya menjadi seorang ibu bagi kedua anaknya, yang diceritakannya bahwa tugas tersebut adalah hal yang berat. Ya itulah makna yang aku sering dengar, bahwa Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Obrolan ringan yang membawaku kembali ke suatu relung masa saat menjalani perdebatan dengan seorang yang juga memberikan pengalaman berharga dalam hidupku (kesabaran dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan). Sebuah relung waktu yang memberikan kesempatan untuk pertemuan dua garis kehidupan anak manusia sebagai sahabat.

Berdoa setiap hari

Sesungguhnya Allah SWT sangat dekat dengan hambaNYA, lebih dekat dari urat leher nya, yang berarti dua Malaikat yang selalu mendampingi manusia dan mencatat setiap perbuatan baik dan buruk manusia tersebut. Perenungan diri, apakah catatan amalanku lebih berat dari pada perbuatan buruk? Aamiin ya Allah.  Allah SWT sesuai prasangka hambaNYA, maka dari itu aku selalu menekankan diri bahwa Allah SWT akan memberikan apa yang aku ucapkan dalam doa-doa ku, toh doa yang diucap dalam saat mustajab seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Aamiin. Selanjutnya bagaimana kita memperbaiki kualitas diri.

Berharap untuk masa depan

Berharap dan yakin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNYA. aamiin

-be continued…

Advertisements