ACF5120 Week 1

Forensic Accounting and Fraud Examination

Assalamualaikum…

Jadi ceritanya aku ambil subject ini di semester pertama ini. Mata kuliah ini diajarkan oleh Dr. Michael De Martinis. Selama 12 minggu perkuliahan, aku dan teman-teman sekelasku akan belajar beberapa bab dalam buku karangan Albrecht et al. (5th edition), yaitu:

  1. Introduction to Fraud
  2. Why people commit fraud
  3. Fighting a fraud: an overview
  4. Fraud prevention
  5. Fraud detection I: recognizing symptoms of fraud
  6. Fraud detection II: Data-driven fraud detection
  7. Fraud investigation I: Investigating theft acts and concealment
  8. Management Fraud I: Financial Statement Fraud
  9. Introduction to archival research in fraud
  10. Determinants of Financial restatements I and II
  11. Determinants of Financial frauds
  12. Fraud investigation II: Investigating conversion methods, and inquiry methods and fraud reports
  13. Management Fraud II: Fraud against organisations

Week 1

Introduction to Fraud and Why People Commit Fraud

Introduction to Fraud

Fraud itu apa sih?, jadi fraud itu suatu tindakan yang didasarkan oleh niatan untuk mencuri harta kekayaan seseorang atau suatu perusahaan tanpa disertai oleh kekerasan. Kalau perampokan (robbery) kan disertai dengan kekerasan, namun hasil kejahatan perampokan jauuuuuh di bawah hasil kejahatan fraud. Jadi fraud ini selalu disertai dengan penipuan (deception), kepercayaan diri (confidence), dan tipu daya (trickery).

Definisi fraud dari buku Albrecht “Fraud is a generic term and embraces all the multifarious means which human ingenuity/kecerdasan/ can devise, which are resorted to by one individual, to get an advantage over another by false representations/keterangan palsu/. No definite and invariable rule can be laid down as a general proposition in defining fraud, as it includes surprise, trickery, cunning/licik/ and unfair ways by which another is cheated. The only boundaries defining it are those which limit human knavery/ketidakjujuran/”(Albrecht et al, 2014: p.7).

Jadi fraud itu adalah penipuan yang memiliki element-element:

  1. Keterangan palsu (a representation)
  2. Nilai material ( about a material point)
  3. Suatu kesalahan (which is false)
  4. Didasarkan oleh niat/kesengajaan (Intentionally or recklessly, which is believed, and act upon by the victim, and to the victim’s damage)

Pelaku fraud biasanya adalah orang yang paling tidak dicurigai, dan orang yang paling dipercayai oleh korban.

Fraud terdiri dari dua, yaitu Fraud yang melawan organisasi/institusi, dimana yang jadi korbannya adalah perusahaan tempat bekerja pelaku fraud dan Fraud yang mengatasnamakan organisasi (fraud yang bergerak atas nama organisasi), contohnya adalah fraud dalam menyajikan laporan keuangan (fraudulent financial statements), dimana yang menjadi korbannya adalah para pemegang saham, atau investor, karena mereka memperoleh laporan palsu.

Kategori lainnya adalah menggunakan klassifikasi dari ACFE atau Asosiasi penguji fraud tersertifikasi (Association of Certified Fraud Examiner), dimana ACFE mendefinisikan “Occupational Fraud” yaitu menggunakan posisi untuk memperkaya diri sendiri melalui penyalahgunaan secara sengaja atau sengaja salah dalam mengaplikasikan sumber daya dan harta kekayaan perusahaan tempat nya bekerja. (“The use of one’s occupation for personnel enrichment through the deliberate misuse or misapplication of the employing organization’s resources or assets”). Nah di bawah kategori Occupational Fraud ini ada 3 kategori utama, yaitu: (1) Assets Misappropriations, (2) Corruption, dan (3) Fraudulent Financial Statements.  Kemudian Fraud di bawah kategori Fraudulent Financial Statements dibagi berdasarkan Jenis korbannya menjadi empat macam fraud, yaitu: (1) Organisasi/Perusahaan yang menjadi korbannya, dimana para pelakunya adalah: pegawai internal (Employee Embezzlement/penggelapan), Vendor/Supplier (Vendor Fraud), dan Pelanggan/Customer (Customer Fraud). kemudian, (2) Shareholders atau Debtholders yang menjadi korbannya (istilahnya Management Fraud, contoh kasus Enron, Worldcom yang memanipulasi laporan keuangan), kemudian (3) Yang menjadi korban adalah individual yang biasanya dilakukan oleh Investments Scams/Other Consumer Frauds (contohnya penipuan investasi bodong semacam ponzi scheme, surat elektronic scam, telemarketing fraud, nigerian scam/money fraud, internet fraud, dll), dan (4) Miscellaneous Frauds, yaitu fraud yang ga masuk ketiga kategori sebelumnya.

Jadi fraud dapat dikategorikan dengan beberapa macam cara: berdasarkan korban, berdasarkan pelaku (perpetrators) atau berdasarkam skemanya. Fraud against organisastion adalah yang paling sering namun yang paling besar menelan korban kerugian adalah Financial Statement Fraud.

Why People Commit Fraud

Hasil riset menunjukkan kalau siapa saja bisa melakukan/commit fraud. Para pelaku fraud biasanya tidak bisa dibedakan dari orang-orang lainnya berdasarkan basis demographi maupun karakteristik psychological. Berdasarkan hasil riset KPMG yang bisa di download dan di baca secara lengkap filenya di sini di detilkan beberapa kriteria para pelaku fraud.

  • 75% dari kebanyakan fraud dilakukan oleh orang dalam organisasi (insiders/internal perpetrators), dimana angka ini untuk tahun 2010 sebanyak 65%. Dan sisanya dilakukan oleh orang luar (external perpetrators).
  • Pria 3 kali lebih memungkinkan untuk bertindak fraud dibanding wanita, dengan persentase survey di tahun 2010 (68%) dan tahun 2012 (75%)
  • Usia para pelaku diantara 25-44 tahun yang dikenal dengan istilah Mature Masterminds
  • 91% pelaku adalah orang-orang yang tidak memiliki sejarah kejahatan (do not have a history of dishonesty, dan
  • 82% pelaku adalah orang-orang yang berpenghasilan tinggi (mendekati $AUD 100 K), mereka melakukan fraud karena gaya hidup yang rakus dan adanya tekanan keuangan (Greed Lifestyle and Personal Financial Pressure)
  • Kejahatan Fraud menunjukkan persentase yang meningkat untuk kejahatan yang dilakukan secara bersama-sama (collusive Fraud) yaitu trend nya: 2010 (23%) dan 2012 (29%) namun kejahatan yang dilakukan secara individual masih lebih mendominasi (2010, 77%, dan 2012, 71%)

Kenapa mereka melakukan Fraud???

Dikenal suatu istilah yaitu THE FRAUD TRIANGLE, dimana ada 3 alasan dibalik fraud, yaitu : (1) Tekanan yang dirasakan (Perceived Pressure), (2) Adanya kesempatan (Perceived Opportunity) dan (3) Rasionalisasi (pola pikir bahwa fraud di bolehkan/Rationalization).

Pressure dapat berupa: (1) Masalah keuangan (Financial Pressure), (2) Efek samping (Vice pressure, seperti drugs, gamblings and alcohol) (3)Tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan (work related pressure, misanya perasaan merasa di bayar terlalu rendah (feeling uderpaid) dan (4) Other pressure contohnya pasangan yang memaksa untuk mendapatkan gaya hidup yang meningkat dibanding kemampuan keuangan (insist to have improved lifestyle).

Adanya kesempatan dikarenakan beberapa hal diantaranya/elemen dalam opportunity: (1) kurangnya pengendalian untuk mencegah dan mendeteksi tindakan fraud/ lack of controls to prevent and to detect fraudulent behaviours, (2) Ketidakmampuan untuk menilai kualitas performance (inability to judge quality of performance, (3) kegagalan untuk mendisiplinkan pekaku fraud/failure to discipline fraud perpetrators, (4) kurangnya akses informasi (lack of access of information, (5) sikap apatis, tidak mau tau dan tidak memiliki kapasitas (ignorance, apathy and incapacity)  dan (6) kurangnya tindakan pemeriksaan (lack of audit trail).  Berkaitan dengan poin (1) yaitu internal control, suatu komita yang dinamakan COSO (Commite of Sponsoring Organizations) mengidentifikasi 5 elements dari framework internal control suatu organisasi dan 17 prinsip yang berkaitan dengan kelima elemen tersebut. 3 diantara kelima element tersebut adalah: (a). Lingkungan Pengendalian/The Control Environment: yang meliputi : 1.Management’s role dan Management’s communications, 2.Appropriate Hiring, 3.Clear Organizational Structure dan 4.Effective internal audit department. (b). Sistem Akuntansi yang bagus/The good Accounting Systems, dimana transaksi yang dicatat adalah 1.Valid, .2properly authorised, 3.complete, 4.properly classified, 5.reported in the properly period, 6.properly valued dan 7.summarized correctly. (c). Aktifitas/Prosedur Pengendalian Internal yang bagus/Good Internal Control Activities, melalui 5 aktivitas pengendalian utama/five primary control activities, yaitu: 1.Pemisahan tugas/ Segregation of duties or dual custody, 2.Proper System of authorizations (misal: password, pin number, spending limits), 3.Independent Checks (misalkan seminggu liburan utk para pegawai bank, periodic job rotation, supervisor review, emloyee hotline), 4.Physical safeguards (misalnya, pagar, kunci, brankas), & 5.Documents and Records (dengan melakukan pencatatan transaksi dan pemeriksaan rutin/audit trail).

Berbicara tentang rasionalisasi, atau pembenaran, kebanyakan pelaku fraud melakukan pemikiran pembenaran atas perilaku mereka (they must rationalize away the dishonesty of their acts). Mereka melakukan pembenaran atas ketidakjujuran agar supaya tidak merasa bersalah. Para pelaku fraud berbohong kepada dirinya sendiri bahwa apa yang mereka lakukan adalah dapat dimaafkan. Beberapa alasan yang sering di kemukakan adalah: Nobody will get hurt, I deserve more, It is for a good purpose, something has to be sacrifice,  I am only borrowing money and will pay it later.

Kembali ke hasil survey KPMG mari kita lihat beberapa hasil survey selanjutnya:

  • $372.27 M total value of fraud
  • $3.08 M average of loss to fraud per organisation
  • 82% increase in individual frauds exceeding $1 million
  • 43% respondent firms experiencing fraud
  • 30% respondent firms detecting less than 40% of frauds in their organization
  • 47% major frauds occuring due to deficient internal controls
  • 194,454 number of fraud incidents
  • $322.2 M fraud loss to respondent FINANCIAL SERVICES Organisation
  • $50.3 M Fraud loss to respondent Non Financial Services Organisation

Prevention and Detection

Organisasi harus dapat mengenali tanda-tanda fraud yang dikenal dengan istilah RED Flags, yang dapat berupa: Financial information that is inconsistent with KPI (Key Performance Indicator), Lack of supporting documentation for transaction, Failure to detect early minor fraud, Failure to implement internal controls, Failure to reconcile cash or stock, Request for system access not commensurate with role dan lainnya.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati, pepatah lama yang juga di kenal di pelajaran ini, Prevention is better than a cure, dimana tindakan ini adalah yang paling sedikit memakan biaya, karena kalau sudah masuk ke bagian atau tahap investigasi, maka biaya yang harus di keluarkan oleh organisasi sangatlah banyak.

Prevention and Detection can be done through: 1. Awareness of training, 2. Internal Control, 3. Notification by employee (Whistle Blowing System/WBS), dan 4.Notification by external parties.

Akhir dari week pertama ini ” There has been a change not only in the level of fraud but also the types of fraud. This is partly attributed to technology and use of electronic mechanism by fraudsters and also to the risk of organised crime”

References:

Albrecht, W. S., Albrecht, C. O., Albrecht, C. C., & Zimbelman, M. F. (2016). Fraud        examination  (5th ed.). Mason, OH, USA: Cengage Learning.

KPMG website

 

-daniwulan-

Advertisements