Yuk Investasi di Reksadana

Mengenal REKSADANA

Reksadana itu apa sih?? Ditinjau dari asal kata, reksa dana berasal dari kosa kata ‘reksa’ yang artinya ‘jaga’ atau ‘pelihara’ dan ‘dana’ yang berarti ‘uang’ atau ‘kumpulan uang’. Jadi, reksa dana bisa diartikan sebagai ‘kumpulan uang yang dipelihara bersama untuk suatu kepentingan’. Kalo dililat dari definisi Reksa Dana adalah suatu wahana atau tempat investasi (Keranjang Investasi) dimana dana dari masyarakat dikumpulkan untuk kemudian dikelola dan diinvestasikan kedalam instrument investasi di pasar modal.

Kalo mas Aidil Akbar  bilang “Reksadana itu seperti sebuah bus antar kota yang berisikan penumpang (investor).  Nah, bus ini akan dinakhodai oleh seorang supir yang kalau di industri pasar modal disebut dengan sebuah Perusahaan Manajer Investasi dan seorang kenek yaitu Bank Kustodian.  Jadi, seperti halnya bus antar kota kan menjual tiket, …..nah tiket dari bus antar kota ini kemudian di jual oleh agen perjalanan yang di industri Reksa Dana dikenal dengan istilah Agen Penjual.  Agen penjual inilah yang biasanya menawarkan Reksa Dana ini kepada masyarakat secara langsung maupun melalui institusi keuangan lainnya seperti Bank.  Jadi Agen Penjual bisa berupa perorangan, bisa juga berupa institusi seperti Bank, makanya sekarang banyak bank yang menawarkan produk Reksa Dana ini kan.  Ingat Bank tidak bertanggung jawab terhadap Reksa Dana karena mereka HANYA AGEN PENJUAL, seperti halnya Agen Penjual tiket tadi tidak bertanggung jawab apabila bus nya nyusruk ke jurang atau malah cepat sampai tujuan…. hiiiiii serem kenapa itu bus bisa nyusruk.”

Nah cara kerja Reksadana seperti yang dijelaskan dalam portalreksadana :

Pada prakteknya, sebelum menjual RD, manajer investasi (MI) mencari pemberi dana (sponsor) terlebih dahulu. Dana dari sponsor inilah yang dijadikan modal investasi awal, misalkan MI mendapat dana sebesar Rp1 triliun dari sponsor, yang kemudian diinvestasikan melalui pembelian sejumlah saham dari berbagai perusahaan. MI akan membagi total investasi tadi ke dalam pecahan-pecahan yang disebut Unit Penyertaan (UP) yang bernilai Rp1.000,00. UP inilah yang kita beli ketika kita membeli RD. Dengan demikian, dari total investasi sebesar Rp1 triliun akan didapat jumlah UP sebanyak

Rp1 triliun / Rp1.000,00 = 1 milyar UP.

Di sini, nilai UP disebut Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Kemudian katakanlah dalam waktu 1 bulan, investasi yang Rp1 triliun tadi tumbuh menjadi Rp1,02 triliun. Maka, NAB dari UP pun akan berkembang menjadi

Rp1,02 triliun / 1 milyar UP = Rp1.020,00.

Dengan kata lain, selama 1 bulan itu investor (pemilik UP) menikmati keuntungan sebesar

(Rp1.020,00 / Rp1.000,00) × 100% = 2%

Atau investor yang awalnya menyetor modal sebesar Rp100 ribu (membeli 100 UP) mendapat return sebesar Rp2 ribu, investor yang membeli 1.000 UP (modal = Rp1 juta) mendapat return sebesar Rp20 ribu, yang membeli 10.000 UP (Rp10 juta) mendapat return Rp200 ribu, dst. selama 1 bulan tadi ”

Secara umum, Reksadana ini ada empat jenis:

1. Reksadana Pasar Uang :

Reksadana Pasar Uang merupakan reksadana yang mayoritas alokasi investasinya pada efek pasar uang, seperti SBI (Surat Bank Indonesia), surat utang berjangka kurang dari satu tahun, deposito berjangka dan tabungan.

2. Reksadana Pendapatan Tetap :

Reksadana yang alokasi investasinya minimal 80% pada efek pendapatan tetap, seperti surat utang (baik surat utang negara/SUN maupun surat utang perusahaan) berjangka lebih dari 1 tahun. Sisanya bisa diinvestasikan ke saham dan/atau instrumen-instrumen investasi pasar uang.

3. Reksadana Campuran :

Reksadana yang alokasinya merupakan kombinasi antara efek ekuitas (saham) dan efek hutang (obligasi) dimana masing-masing efek tidak ada yang melebihi 80%.

4. Reksadana Saham :

Reksadana yang alokasi investasinya  sebagian besar ke dalam saham. Sisanya bisa diinvestasikan ke dalam instrumen-instrumen investasi pendapatan tetap dan pasar uang.

Jadi perbedaan dari keempat reksadana ini adalah alokasi dana yang dikumpulkan dari investor. Perbedaan lainnya adalah resiko dan return dari masing-masing reksadana. Dalam dunia investasi di kenal dengan istilah “High Risk High Return”. Jadi semakin tinggi resiko yang anda tanggung, semakin besar pula return yang bisa anda dapatkan, dan demikian juga sebaliknya. Dalam Reksadana, resiko terbesar ada di Reksadana Saham dan menurun secara berurutan di Reksadana Campuran, Reksadana Pendapatan Tetap, sampai yang paling rendah resikonya yaitu Reksadana Pasar Uang.

Dalam menentukan jangka waktu yang cocok untuk tiap-tiap reksadana, berikut saran dari perencana keuangan Safir Senduk :

Jangka waktu investasi sangat pendek (1 tahun) ? Reksadana Pasar Uang

Jangka pendek (1-3 tahun) ? Reksadana Pendapatan Tetap

Jangka menengah (3-10 tahun) ? Reksadana Campuran

Jangka panjang (>10 tahun) ? Reksadana Saham

Mengenai jumlah reksadana yang terdaftar dapat dicek di situs bapepam. Sebelum membeli Reksadana, SELALU pastikan bahwa Reksadana yang ditawarkan adalah Reksadana yang terdaftar di BAPEPAM dan begitu juga dengan Manajer Investasi serta Agen Penjual Reksadana. Dan pastikan untuk selalu membaca dan memahami PROSPEKTUS Reksadana terlebih dahulu.

Menentukan TUJUAN Investasi

Sebelum memulai investasi tentunya kita harus menentukan TUJUAN kita dalam berinvestasi. Misalnya:

a. Investasi untuk biaya pendidikan anak di TK dalam waktu 5 tahun mendatang

b. Investasi untuk biaya pendidikan anak di SD dalam waktu 7 tahun mendatang, dst sampai biaya kuliah

c. Investasi untuk biaya liburan dalam waktu setahun mendatang

d. Investasi untuk pembelian kendaraan dalam waktu 2 tahun mendatang

Nah dari tujuan-tujuan yang kita tetapkan, kita menentukan berapa dana yang kita butuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, dan perhitungkan nilai dana tersebut dimasa mendatang dengan memasukkan nilai inflasi. Misalkan:

a. Kita membutuhkan dana untuk biaya bendidikan anak di TK dalam waktu 5 tahun mendatang:

Besarnya dana untuk pendidikan TK saat ini (misalkan) sebesar Rp10.000.000,-

Tetapkan nilai di masa mendatang,(misalkan) inflasi pertahun 10%, maka nilai tersebut dalam lima tahun mendatang akan menjadi Rp10.000.000,- + (5 x 10% x Rp10.000.000,-) = Rp15.000.000,-  Dengan memasukkan inflasi, itu artinya kita sudah mengantisipasi adanya kenaikan dana yang dibutuhkan sebesar 10% setiap tahunnya.  Dan dana tersebut kita butuhkan dalam jangka waktu 5 tahun mendatang. (perhitungan ini hanyalah perhitungan sederhana)

Memilih Reksadana dan Menentukan Strategi

Setelah kita menentukan tujuan kita dalam berinvestasi selanjutnya adalah memilih reksadana yang cocok untuk mewujudkan tujuan investasi kita. Berdasarkan petunjuk perencana keuangan, untuk jangka waktu 5 tahun yang cocok adalah Reksadana Campuran, namun perlu kita lihat juga kondisi diri kita sendiri, Kalo kita bukan orang yang mengerti tentang pergerakan di pasar saham, dan nggak mau kena resiko naik turunnya nilai investasi jangan pilih reksadana saham atau campuran, karena itu membuat kita tidak mencapai cita-cita. Jadi mungkin harus pilih reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Langkah selanjutnya adalah memilih reksadana yang sesuai dengan tingkat resiko yang mau diambil. misalnya reksadana pendapatan tetap,  pilih saja reksadana pendapatan tetap yang sesuai dengan karakter diri sendiri, kalo bingung pilih aja salah satu dari reksadana pendapatan tetap milik salah satu dari 3 Manajer Investasi terbesar.  Kita bisa membaca dari majalah-majalah investasi untuk melihat Reksadana yang memiliki kinerja baik. Kita juga dapat mencari tahu tentang Kinerja Reksadana yang kita incar melalui situs seperti infovesta, kontan, bloomberg.
Setelah itu pilih strateginya, ada macam-macam strategi dimulai dari lump sum, dollar cost averaging, dsb. Jika anda ingin mencicil bisa menggunakan strategi dollar cost averaging (artinya kita memutuskan untuk rutin nabung tiap bulan setiap tanggal gajian). Ini strategi yang lumayan ok kalo kita  memilih reksadana pasar uang atau pendapatan tetap.

Monitoring Investasi

Memonitor investasi adalah bagian yang paling penting, biasanya orang suka lupa kalo sudah disini. Meskipun dana kita dikelola oleh Manajer Investasi, kita tetap harus melakukan monitor atas kinerja Reksadana kita, misalnya tiga bulan sekali. Nah untuk memonitor ini kita bisa memperoleh informasi dari situs-situs seperti infovesta, memanfaatkan menu portofolio tracker dari bloomberg, ataupun dengan menjadi anggota di situs portalreksadana. Dengan begitu kita bisa tahu kinerja reksadana kita dan memonitor perkembangan investasi kita.

Oh iya, yang PALING PENTING “Reksadana bukan produk yang dijamin pemerintah (Lembaga Penjamin Simpanan), jadi pilihlah Manajer Investasi yang bonafid/yang terdaftar di Bapepam. Jika salah memilih Manajer Investasi seperti kasus antaboga yang rame di TV akan berujung pada hilangnya investasi kita (tidak ada lembaga manapun yang akan bertanggung jawab atas investasi kita). Dan juga selalu baca PROSPEKTUS atas Reksadana sebelum memutuskan untuk membeli. Apa sih Prospektus itu? Prospektus itu sebenarnya cerminan dari Kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat ke Investor (yaaa.. betul itu anda yang jadi investor).  Jadi didalam Prospektus itu terdapat Hak dan Kewajiban anda.  Didalam Prospektus juga dijelaskan kemana Manajer Investasi akan menempatkan dana investor, resiko investasi dan informasi lainnya yang anda butuhkan.  Tanyakan Prospektus ini, mintakan atau paling tidak anda boleh membacanya.  Kalau orang menawarkan ReksaDana tapi tidak bisa menunjukan Prospektus, ini signal untuk DO NOT BUY…. karena biasanya penipuan bisa terjadi disini. Dan Kinerja Masa Lalu atas Reksadana juga tidak mencerminkan Kinerja Masa Depan”

Selamat Berinvestasi

Sumber : Kontan, Infovesta, Wikipedia, Portalreksadana, Aidil Akbar

Advertisements